Legusa Festival sebagai wujud ekspresi seni anak nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang
Hampir di setiap jorong yang ada di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang memiliki beberapa instrumen dan kebiasaan musikal. Paling tidak satu buah ansambel talempong pacik ada di masing-masing jorong. Biasanya, digunakan dalam peristiwa-peristiwa penting dalam masyarakat. Arak-arakan pengangkatan penghulu, arakan pengantin, khatam alquran, dan lain sebagainya. Disamping itu secara personal diantara masyarakat juga ada yang memiliki saluang, rabab, dan alat musik tradisional lainnya.
Hal tersebut , bisa dibaca sebagai modal kultural dalam masyarakat. Tinggal kemudian menciptakan sebuah “panggung” untuk mendorong masyarakat untuk mau berproses dan mementaskannya.
Maka oleh anak-anak nagari dimulailah untuk mencatat, membuat daftar peralatan musik yang dimiliki oleh masyarakat serta kedua kelompok seni yang ada di nagari tersebut. Instrumen-instrumen tersebut akan digunakan sebagai media untuk proses latihan secara bergantian. Lalu melakukan riset untuk menemukan kesenian-kesenian yang pernah ada, serta mendata siapa saja masyarakat pelaku kesenian tradisi di masing-masing jorong. Tak soal apakah itu perempuan atau laki-laki, apakah itu tua ataupun muda.
Setelahnya, dibuatlah sebentuk program kerja budaya. Yaitu residensi seniman-seniman muda Sumbar. Melalui program ini seniman-seniman muda Sumbar diajak untuk life in di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, sambil menemani kelompok-kelompok kesenian yang ada di masing-masing jorong untuk berproses. Melalui proses mentoring inilah masing-masing kelompok yang ada di jorong-jorong hendak didorong menjadi pencipta musik, yaitu musik yang terasa dekat dengan masyarakat mereka. Hasil mentoring inilah yang kemudian dirayakan dalam sebuah festival yang dinamakan dengan Legusa Festival.

Dalam pelaksanaannya, beberapa masyarakatpun ingin menjadi bagian festival. Mereka juga sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa mereka lakukan. Misalnya, soal konsumsi. Masyarakat juga sibuk, seolah-olah tugas konsumsi menjadi tanggung jawab mereka, padahal panitia tidak sedang ingin merepotkan masyarakatnya. Maka dari itu, ada saja yang menanakan nasi untuk panitia-panitia yang bekerja. Tiba-tiba saja ada saja yang mengantarkan nasi ke lokasi tempat anak-anak nagari sedang mendekorasi panggung.
Oleh karena itu, festival ini bisa dirasa sebagai sebuah festival milik semua masyarakat. Kalau saya boleh membayangkan, dihari festival, lokasi yang akan dijadikan tempat pementasan akan dipadati masyarakat. Anda akan melihat orang-orang berkelumun dengan kain sarung, berjaket tebal, menggendong anak, anak-anak bersepatu. Mereka hendak menonton anak nagari mereka untuk mementaskan kesenian milik mereka. Saya kira, melalui pertunjukan tersebut mereka hendak menonton diri mereka sendiri.
Festival sebagai strategi untuk memvitalkan kembali seni dan budaya masyarakat
Saya kira, yang menarik dari festival ini bukanlah apa yang terjadi saat pergelarannya. Akan tetapi, dinikmati oleh segenap anak nagari adalah prosesnya. Bagaimana kemudian anak-anak nagari mendapatkan pengalaman-pengalaman kultural. Tidak hanya soal bagaimana pengelolaan festival, kegotongroyongan, juga bagaimana anak nagari mampu terdorong membentuk kelompok-kelompok kesenian di setiap jorongnya (dusun).
Anak-anak nagari menjadi gemar memetakan potensi-potensi kesenian mereka. Mereka mulai meraba-raba, bertanya-tanya, apa saja kesenian yang hidup dan pernah hidup di lingkungan mereka. Lalu, kesenian itu mereka olah kembali. Kesenian-kesenian terseubt menjadi dasar untuk penciptaan karya-karya yang relatif baru. Proses inilah yang saya kira lebih menantang, soal bagaimana mereka mementaskan tentu adalah bonus dari apa yang telah mereka lalui dalam proses.
