Aktivitas olahraga perintang-rintang hari
Bagi sebagian orang, olah raga adalah aktivitas mengolah tubuh supaya tetap bugar dan sehat. Namun, tidak bagi masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Olah raga dilakukan sebagai pengisi waktu luang setelah penat di sawah dan ladang masing-masing.
Misalnya, sepak takraw, sepak bola, bulu tangkis, bola voli. Mereka menggeluti setiap cabang olahraga tersebut, namun tidak berniat untuk menjadi atlit atau olahragawan. Sehingga tidak perlu latihan yang sistematis mulai dari peregangan hingga latihan teknis ataupun bunyi pluit yang manis. Olah raga bagi mereka tidak dibaca sebagai sebuah ruang kebugaran, melainkan sebagai sebuah ruang sosial di senja hari. Maka dari itu, bagi mereka, olah raga hanya sebagai pengisi waktu luang di antara sawah ladang dan senja menunggu magrib.
Permainan anak nagari Pacu itiak
Konon, pada dahulunya di Jorong Padang Panjang ada seorang petani yang bernama Jamin, yang hidup sekitar tahun 1901. Selain bertani dia juga berternak. Yaitu itik, atau bebek. Suatu pagi, ketika hendak mengeluarkan itik peliharaannya dari kandangnya tiba-tiba 4 ekor itik nya mendahului teman-temannya yang lain. Empat itik tersebut terbang ke lurah (rawa). Melihat kejadian itu Pak Jamin merasa heran. Lalu ia menandai empat itik tersebut seraya memisahkannya dari kawanannya. Keesokan harinya Pak Jamin menangkap 4 itik tersebut dan melemparkan menuju kawanannya, dan lagi-lagi itik-itik tersebut terbang melewati kawanannya.

Kemudian sambil minum kopi di lapau, Pak Jamin menceritakan kepada orang-orang. Mendengar cerita Pak Jamin kemudian orang-orang tersebut penasaran dan membawa itik-itik itu ke tempat yang agak jauh. Alangkah terkejutnya mereka ternyata itik tersebut terbang jauh hingga 1,5 km. Setelah itu, itik-itik yang bisa terbang itu dipelihara dengan baik, berbeda dengan itik-itik yang lainnya. Itik-itik tersebut diatur makannya, dimandikan, dan digosok bulunya layaknya binatang kesayangan.
Saban hari, itik-itik pilihan tersebut dilatih di jalanan. Dimulai dengan jarak yang pendek, hingga kemudian pada jarak jauh. Setelah dua atau tiga bulan dilatih, itik-itik tersebut diperlombakan. Perlombaan ini menjadi semacam perayaan yang dinanti-nanti oleh masyarakat hingga sekarang.
Selain sebagai sebuah perayaan, perlombaan ini juga berdampak secara ekonomis. Dimana, selama dua hari berturut-turut di lokasi perayaan orang-orang akan berjubel. Tak sedikit juga bagi sebagian masyarakat dengan sengaja meliburkan diri mereka dari aktivitas-aktivitas sehari-hari untuk tidak mau ketinggalan alek atau pesta ini.
