Oleh : Hario Zones
Beberapa bulan lalu, pertandingan demi pertandingan sepak bola digelar dengan begitu sumarak di jorong Bukik Kanduang nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Lapangan yang begitu lapang itu kiranya mampu menampung minat besar masyarakat Sitapa. Khususnya menjadi penyaksi dalam kocek mengocek sikulit bundar.
Sumaraknya tidak hanya di dalam lapangan. Pun di luar lapangan. Dari kaki ke kaki pemain, dari kejauhan, mata penonton tampak liar mengikuti kemanapun arah bola. Namun begitu, telinga penonton ada yang membantu. Dipengeras suara selalu ada yang berteriak. Teriakan itu kadang berisi yel-yel, narasi-narasi serta deskripsi tentang permainan yang sedang berlaga. Pendeknya, suara di mikrofon tersebut memberi semacam jembatan penghubung. Antara penonton dengan pemain. Antara orang-orang di dalam lapangan dengan orang-orang yang di luar lapangan.
Dialah Kurnia Delfi. Alias Takur. Mikrofon bagi Kurnia Delfi adalah alat yang ingin selalu ia pegang. Gatal saja bibirnya untuk melantangkan suara kalau sudah melihat benda tersebut. Dengan mikrofon ia bisa menyalurkan hobinya, seperti menyanyi, membawakan acara atau menjadi komentator olahraga.
Tak ada yang tak mengenal Takur. Sebuah Panggilan yang khas untuknya. Pria kelahiran Jorong Padang Panjang tersebut aktif bermasyarakat, periang dan senang bergurau. Pergaulannya tak saja dengan orang-orang sebayanya tapi dengan siapa saja, mulai dari anak-anak hingga lansia.
Gagal di perantauan, ia memutuskan kembali ke kampung halaman. Bersama komunitas Legusa, ia menyalurkan hobinya berkreasi di seni tradisi Minang. Sering kali bersama malam dan kopi ia berdendang dipinggir sungai dengan joran ditangannya.

Baginya, ketika anak nagari melaksanakan kegiatan olahraga, disitulah ia akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Kenapa demikian, karena sudah pasti mikrofon akan ditangannya. Dan dengan senang hati ia menjadi komentator dengan ciri khasnya. Tanpa terbata-bata ia akan meneriakkan yel-yel pembakar semangat. Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun sebenarnya juga butuh penyemangat dalam hidupnya. Apalagi bebeapa tahun terakhir kondisi fisiknya mulai menurun. Jantung dan diabetes cukup mengganggu pikirannya. Hal ini berkaitan juga dengan kondisi ekonomi yang tak baik-baik saja. Ditambah lagi dengan kehidupan rumah tangga yang berantakan.
Selasa, 31 Januari 2023, sang komentator itu tak lagi bersuara. Ia “diam” untuk selama-lamanya tepat diusianya yang ke 47 tahun. Ia pamit dengan begitu mendadak. Kata beberapa orang, beberapa jam sebelumnya ia masih sempat saling menyapa dan berkirim pesan dengan orang-orang terdekatnya.
Memang beberapa hari belakang, tak ada lagi riang dan senda gurau tepancar dimukanya. Kini Ia pergi meninggalkan “mikrofon” kehidupannya. Serta merta meninggalkan kegetiran, pahitnya hidup, kesepian dan mungkin juga keputusasaan. Kesemuanya itu, yang barangkali sering ia ceritakan kepada siapa saja yang ia temui. Kini telah ia terbungkus rapi bersama kain kafannya.

Selamat jalan sang komentator, cukup sudah perjalanan hidupmu yang melelahkan itu. Berdamailah dengan hatimu di alam sana. Barangkali kau tengah menyaksikan pertandingan sesungguhnya. Jika Tuhan bisa mendengar doa kami, tentu kami akan meminta mikrofon ada di tangan mu. Pengeras suara yang akan mengantarkan segaa jerit mu dari alam sana. Kepada kami yang kau tinggalkan. Dengan begitu, kami akan taburkan kuburan mu dengan segala macam doa. Semoga dari yang sempit kau bisa dapat kelapangan. Dan dari yang panas kau bisa dapat yang sejuk.
Ingatlah, kau akan selalu kami kenang.
