“Cando lokuak ditinggaan aia kami sasudah olek potang tu.” (Seperti lekuk ditinggalkan air kami setelah festival kemaren itu). Begitulah komentar lugu namun hiperbolik Upiak Bendang sehari setelah Alek Budaya Nagari Sitapa digelar.
Upiak Bendang, merupakan perempuan sekitar 70 tahunan, warga jorong Padang Panjang, nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Rumahnya persis berada di lokasi festival. Perempuan lanjut usia itu memang begitu senang sejak panitia sibuk mendekorasi lokasi kegiatan. Mulai dari memasang marawa (bendera warna kuning, merah, hitam) di depan rumahnya. Sampai kemudian membawa panggung dan tenda ke lokasi pentas pertunjukan (lapangan futsal masyarakat yang kemudian disulap menjadi lokasi pertunjukan). Kesenangan itu tampak meluap ketika pada hari pelaksanaan. Selama 2 hari dari pagi hingga malam peristiwa-peristiwa kebudayaan silih berganti dipergelarkan
Ya, tepatnya tanggal 3-4 Desember lalu, masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, khususnya masyarakat jorong Padang Panjang kembali mempergelarkan kearifan-kearifan yang masih mereka geluti. Pergelaran kebudayaan itu berkat fasilitasi Dirjen Kebudayaan, Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam platform Pemajuan Kebudayaan Desa.
Tak jauh berbeda dengan penyelenggaraan tahun lalu. Tobang Itiak masih menjadi objek unggulan untuk kemudian dikemas dalam perayaan tersebut. Namun, pada tahun ini keterlibatan masyarakat adat sedikit meluas. Hari pelaksanaan atraksi Tobang Itiak menjadi ruang budaya bagi masyarakat nagari.
Dari prosesi adat bagalanggang hingga pertunjukan kesenian digelar begitu merakyat
Jam Sembilan lebih sedikit, meskipun agak mendung, sebuah drone (kamera udara) terus memantau jalannya prosesi arak iriang satu rombongan. Rombongan itu berjalan begitu percaya diri. Dalam adat mereka disebut dengan si alek (orang yang datang). Mereka berjalan begitu gagah dengan iringan music talempong pacik serta tambur. Rombongan itu terdiri dari niniak mamak, bundo kanduang, rang padusi (perempuan) yang menjujung talam (sebentuk nampan berisi nasi, lauk pauk, serta buah-buahan), pesilat, serta orang-orang muda menggendong itik di ketiak mereka.
Sementara, di lokasi kegiatan satu rombongan pun sudah menunggu pula. Rombongan yang menunggu ini lazim disebut dengan si pangka (tuan rumah). Tampak para niniak mamak, bundo kanduang, rang padusi (perempuan) bertalam, penari, pesilat, juga orang-orang muda yang menggendong itik menunggu dengan segala harap yang cemas.
Dua rombongan ini, sedang membuat satu bangunan kebudayaan yang mereka sebut dengan Prosesi Adat Bagalanggang. Bagalanggang bagi orang Minangkabau masa lalu dibayangkan sebagai sebuah lokasi biasanya lapangan terbuka sebagai tempat rang mudo (orang-orang muda) menggelar ragam permainan, mengadakan perayaan-perayaan, atau berupa keramaian-keramaian.

