Masyarakat adat
Sebagaimana kita ketahui, Sumatera Barat sebuah provinsi yang wilayahnya secara umum banyak dihuni oleh etnis Minangkabau. Sebuah peradaban yang hidup dengan tatanan adat. Dan nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang adalah salah satu diantaranya. Sebuah kelompok masyarakat yang hidup secara komunal dengan adat salingka nagari (kearifan masing-masing).
Sayangnya, secara administrtif, sejak diseragamkan menjadi desa semasa orde baru, tampak semacam dualisme kepemimpinan. Yaitu antara masyarakat adat dan pemerintahan desa. Dan masyarakat adat seolah tunduk pada aturan Negara melalui pemerintahan desa. Meskipun demikian, secara laku, kelompok-kelompok masyarakat tetap hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang sudah turun temurun dari apa yang mereka yakini. Seperti beberapa istilah berikut, adat istiadat, adat nan taradat, adat nan diadatkan, adat nan sabana adat.
Setidaknya, di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, beberapa aktivitas serta laku adat yang tetap dilakukan hingga hari ini antara lain berupa, sistim matriakat, tradisi-tradisi lisan alua pasambahan, upacara pengangkatan penghulu, tradisi-tradisi pada pesta perkawinan.
- Alua pasambahan
Alua pasambahan merupakan bahasa adat, yang biasanya dikemas dalam bentuk pantun-pantun, pepatah-pepatah, mamangan-mamangan. Yaitu sebentuk cara masyarakat adat membahasakan, menafsirkan, menarasikan, mengkomunikasikan, segala bentuk kearifan-kearifan, kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan-pengetahuan adat, dalam ruang lingkup adat itu sendiri. Tak lain adalah semacam tradisi kebahasaan masyarakat adat yang disampaikan secara lisan, turun temurun dari nenek moyang terdahulu. Bahasa ini biasanya dipakai dalam konteks adat, sangat jarang sekali dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, alua pasambahan terus direvitalisasi. Mereka membentuk ruang belajar bersama bagi penghulu-penghulu baru, dan juga anak-anak kemenakan yang ingin mempelajarinya.
- Batagak Pangulu
Batagak pangulu merupakan sebuah peristiwa besar dalam hidup orang Minangkabau. Oleh karena itu, peristiwa budaya ini biasanya dilaksakan dengan biaya yang sangat besar pula. Begitu pula bagi masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Peristiwa yang menyangkut keberadaan suatu kaum di dalam hidup banagari (wilayah adat). Sebuah upacara yang menandakan satu kaum adalah orang usali (asli) atau bukan. Seseorang yang akan mewakili sebuah kaum. Maka, orang yang telah ditunjuksepakati oleh kaum di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang itu harus menjalani dua macam palewaan.
Pertama, dikenal dengan istilah naiak ka limo suku. Yaitu semacam pelewaan atau pengakuan penghulu baru ditingkat jorong (dusun). Bahwa, orang-orang dalam jorong harus diberi tahu kalau si anu sudah tidak lagi orang biasa. Melainkan sorang ninik mamak. Kedua, naiak ka medan nan bapaneh, yaitu pelewaan atau pengakuan penghulu baru ditingkat nagari (desa). Bahwa orang di dalam nagari juga harus diberitahu, bahwa si anu telah menjadi seorang ninik mamak. Agar supaya orang lain tidak salah-salah tingkah terhadapnya.
Meskipun secara ruang lingkup berbeda, adayang dilakukan secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan pengangkatan penghulu-penghulu yang lainnya. Namun secara alur prosesi dan seremonial pengangkatannya tidaklah berbeda. Diantaranya, mandabiah kabau (menyemblih kerbau). Tahapan ini merupakan tahap simbolis untuk kedirian seorang ninik mamak. Dimana mandabiah kabau atau membantai kerbau merupakan simbol untuk membunuh naluri kebinatangan seorang manusia. Tanduak dibanam (tanduk dibenam)dimaksudkan untuk membuang sifat-sifat hewani yang cendrung melukai dan membinasakan orang lain. Darah dikacau tak lain adalah untuk mendinginkan darah yang panas dalam diri seorang manusia. Sementara dagiang dimakan merupakan sebuah tangung jawab seorang ninik mamak yang dijadikan sebagai tempat mengadu anak kemenakan.
Kemudian, untuk melengkapi kebesaran seorang penghulu, maka di sepanjang jalan akan dipancangkan marawa. Semacam bendera kebesaran, umbul-umbul. Yaitu bendera 3 warna, hitam melambangkan ketabahan, kuning melambangkan kejayaan kekuasaan seeorang penghulu. Serta warna merah melambangkan keberanian. Juga umbul-umbul putih yang menjulang ke langit.
Setelah seorang ninik mamak dilewakan di tengah-tengah orang ramai, maka rombongan ninik mamak akan diarak kembali ke korong kampungnya. Dalam arakan ini akan diiringi dengan letusan bedil. Biasanya diistilahkan dengan malatuihan badia sadantam (meletuskan bedil sedentam/dentum). Arak-arakan tersebut juga diiringi dengan bunyi-bunyian yang lain, seperti talempong dan oguang. Sesampai di rumah (korong kampung) semua undangan, anak nagari, dan orang-orang terpandang laiinya akan dijamu makan dan minum sepuasnya.

Itulah kenapa upacara malewakan (memberitahu kepada seluruh masyarakat) gala (gelar) seorang penghulu ini bisa dikatakan sebagai sebuah peristiwa penting dan besar di Minangkabau. Seorang yang akan membawa gelar sako (nonmaterial)dan pusako (material), menjaganya untuk kelangsungan hidup kaumnya sendiri. Orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting di dalam kaum kerabatnya.
