Masyarakat kesenian
Diantara masyarakat di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, sebanarnya ada saja diantara warganya yang memiliki keterampilan dalam berkesenian. Baik itu bentuknya kesenian-kesenian tradisi, maupun kesenian-kesenian modern. Baik itu dilakukan secara indivudu maupun berkelompok. Dan tak jarang pula mereka memilih kesenian sebagai sebuah profesi.
Keterampilan-keterampilan itu ada yang dari hasil berguru ke daerah lain, atau memang meneruskan secara turun temurun laku budaya orang tua mereka. Menariknya lagi, setidaknya ada dua model tumbuhnya kesenian di nagari atau Desa Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang ini.
Pertama, aktivitas-aktivitas kesenian yang dimainkan di lapau-lapau. Lapau akan menjadi tempat istirahat kedua setelah rumah istri. Lapau akan menjadi tempat untuk merebahkan penat setelah seharian bekerja di sawah dan ladang. Di lapau itu pula lah kerap dilangsungkan aktivitas-aktivitas menghibur diri, berupa meniup saluang, menggesek rabab, memainkan gitar, serta kadang berdendang.
Tentu saja bagi mereka, aktivitas kesenian tersebut tidak menjadi hal yang bersifat ritus-ritus tertentu, mistis, apalagi yang bersifat religiuitas. Bagi mereka aktivitas kesenian serupa itu adalah hal biasa yang lakukan disela-sela kuap dan kantuk.

Dari situ, dapat kita lihat bahwa dalam kehidupan kesenian masyarakat (paling tidak bagi masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang), kesenian, katakanlah serupa meniup saluang, rabab, dendang menjadi sesuatu yang tumbuh dalam masyarakat pada situasi-situasi yang disebut di atas. Kesenian diposisikan sebagai mengisi waktu luang, sambil berdiang nasi masak, dilakukan saat menunggu kantuk yang terkuap-kuap di bale-bale lapau.
Kedua, aktivitas kesenian yang memang dilakoni lebih serius dari apa yang dilakukan di lapau-lapau. Seperti adanya kelompok-kelompok kesenian yang memang proses latihannya terjadwal. Seperti kelompok randai (teater tradisi), ansambel talempong pacik, dan juga ada ansambel talempong sikatuntuang.
Talempong pacik merupakan ansamble talempong yang saya kira hampir disetiap nagari di Minangkabau memilikinya. Ansambel yang terdiri dari 4 atau 5 orang lebih. Tiga orang memainkan masing-masing dua buah talempong, satu orang memainkan gendang, satunya lagi memainkan tamborin. Ansambel ini pun biasanya dimainkan untuk mengiringi arak-arakan serta keramaian-keramaian budaya.
Nyaris sama dengan ansambel talempong pacik, sikatuntuang juga memainkan instrumen yang sama. Hanya saja, sesuai namanya, sikatuntuang, ansambel ini ditambah dengan dua buah kayu batang cempedak sepanjang 1,5 meter dengan tebal kira-kira 15-20 cm. sikatuntuang ini dimainkan dengan cara menghentakkan kayu bulat serupa tongkat (1 meter lebih) seperti ibu-ibu menumbuk padi dengan alu.
