Nagari (desa) Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, begitu nama yang tercatat dalam administrasi kementrian dalam negeri, sesuai pula dengan surat keputusan Bupati Lima Puluh Kota Nomor 171 Tahun 2009. Sebuah nagari yang melandai di kaki Gunung Sago, Kec. Luhak, Kab. Lima Puluh Kota.
Nagari tempat tumbuh berkembangnya lebih kurang 5.000 jiwa, yang dengan suka cita menggantungkan penghidupan pada lahan pertanian dan perkebunan yang lebih kurang 1.000 Ha luasnya. Nagari ini pun terbagi dalam 6 jorong (dusun) antaranya, jorong Sikabu-kabu, Bukik Kanduang, Lakuak Dama, Tanjung Haro Selatan, Tanjuang Haro Utara, dan Padang Panjang.
Aktivitas masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang nyaris serupa di masing-masing jorongnya. Hari akan dimuai dengan bertafakur tunduk pada illahi. Pagi buta, seruan adzan akan menggema dipengeras suara di setiap mesjid dan mushola-mushola. Seolah akhirat adalah segalanya, jangan-jangan besok tidak lagi diberi kesempatan hidup oleh yang kuasa. Maka dari itu, berdoa adalah jalan satu-satunya.
Lantas, baru saja selangkah dari gerbang mesjid, mereka seolah kembali ke dunia. Menjelang pagi, sebelum sawah ladang disemai, duduk di lapau seolah menjadi ritual yang wajib pula bagi mereka. Begitu pagi mulai sedikit terang, orang-orang bersegera duduk di lapau, memesan kopi, menghembuskan asap rokok, sambil mancorah (berbagi cerita) persoalan hidup dan hal-hal yang aktual tentunya. Setelah matahari agak meninggi baru mereka pergi ke sawah dan ke ladang ataupun bertukang untuk memulai bekerja. Adzan zuhurlah yang nantinya akan memanggil mereka untuk pulang. Dan, lapau kembali menjadi tujuan. Lapau bagi mereka tak lain sebuah tempat yang tak pernah sepi. Seolah lapau adalah dunia segala dunia.
Setelah sore, biasanya diisi dengan beberapa permainan olah raga, bagi laki-laki biasanya bermain sepak bola, sepak takraw, lalu bagi perempuan bersegera memenuhi lapangan voli. Biasanya, permainan ini akan dihentikan oleh kumandang azan Magrib. Menandakan untuk pulang ke rumah masing-masing. Setelah magrib, kaum laki-laki akan kembali ke lapau. “Alangkah mudahnya menemukan seseorang di nagari ini. Pergi saja ke lapau, maka Anda akan bisa menemukannya,” seru seseorang di lapau satu ketika.

Namun, suasana lapau pada malam hari agak sedikit berbeda dengan siang hari. Pada malam harinya, lapau akan hiruk dengan hempas batu domino, cubitan-cubitan kertas koa (ceki). Di meja lapau, mereka akan mempertaruhkan apa yang disebut dengan harga diri. Yang kalah, tentu bersiap-siap membayar kopi yang menang. Tentu, harga kopi tidaklah seberapa, namun harga diri dan tuah yang kemudian teramat mahal. Sehingga bagaimanapun, malam berikutnya cakak harus bisa terbalas.
Tidak hanya itu, suasana yang lain juga hadir di lapau ini. Dibanyak tempat di Minangkabau, di lapau juga hidup aktivitas-aktivitas kesenian. Tak sedikit kesenian tumbuh dan berkembang dimulai dari lapau. Anda akan melihat orang-orang meniup saluang, bangsi, atupu rabab.
