Pertunjukan kedua, menjadi pertunjukan yang sama sekali baru bagi masyarakat malam itu. Pertunjukan teater oleh kelompok Pekik Nyaring dari Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. Tampak tiga orang berdiri di tiga titik yang berbeda. Dua diantaranya bepakaian seperti yang biasa dipakai oleh pemangku adat. Satunya lagi, berkostum dengan symbol-simbol agama. Berpeci, bersorban, dan ditangannya ada tasbih. Panggung pertunjukan seolah sedang mereka “kurung” dengan garis berupa segitiga imajiner. Mereka bertiga itu terdengar meneriakkan apa yang kemudian menjadi persoalan-persoalan kekinian. Tidak hanya di dalam adat, juga dalam kehidupan beragama. Sementara itu, di tengah-tengah segitiga itu muncul beberapa orang gadis remaja dengan atribut Handphon. Gadis remaja itu memperagakan bagaimana fenomena-fenomena kekinian. Merekam diri, lalu membagi-bagikan kepada orang lain melalui platform media sosial. Sumbang, begitu judul karya tersebut.
Nyaris senada. Pertunjukan kedua, dari pedalaman Harau. Ruang Belajar Bintang Harau, mementaskan eksplorasi Randai. Randai yang lebih perkusif. Satu orang bertindak sebagai pendendang, 4 orang lainnya menepuk kandik dengan pola-pola dan ritmis gendang. Agaknya, mereka juga ingin merespon fenomena kekinian. Bagaimana larutnya masyarakat hari ini, tidak hanya remaja pun juga orang-orang dewasa dengan smartphone.
Selepas Bintang Harau, giliran Komunitas Legusa dari nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang. Sebuah karya pertunjukan kontemporer. Terdengar musik dengan bunyi-bunyi burung. Tak berapa lama, seorang penari yang mengenakkan pakaian dari plastik masuk. Di tangannya semacam kaleng yang diisi batu-batu kecil. Sebuah peralatan yang bunyinya biasa digunakan oleh petani untuk mengusir burung-burung yang hinggap di sawah mereka. Dari tubuh penari, seutas tali diikat, ujungnya dipegang oleh pemusik yang berada di belakangnya. Bak orang-orang sawah, penari dikendalikan dengan tali oleh pemusik.

Terkait itu, karya komunitas legusa yang berjudul orang-orang sawah itu barangkali hendak menyoroti bagaimana fenomena lain dari masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang. Dimana, sudah begitu sulitnya mencari buruh-buruh tani. Terutama buruh tani untuk sawah. Sawah-sawah sudah beralih menjadi lahan ladang, terkhusus ladang ubi. Bahkan, masyarakat terkesan tidak lagi peduli dengan sawah-sawah. Sawah menurut mereka sudah tidak mampu lagi menopang perekonomian mereka. Sehingga mereka beralih pada ubi kayu. Sawah tidak lagi menjanjikan buat mereka. Dengan mantap memilih untuk menjadi konsumen beras dari pada menjadi produsen. Mereka rela untuk membeli beras untuk kebutuhan pokoknya. Sebuah pekerjaan yang barangkali dahulu menjadi satu aib bagi keluarga dan juga kaum mereka. Namun sekarang sudah biasa saja.
Pertunjukan penutup, Puti Indah Jalito dari jorong Bukik Kanduang. Sekitar 10 lebih gendang Tambur diguguh semalam itu. Mendengarkan hentakannya, para penonton seolah tidak bisa menahan diri. Mereka berdiri megikuti irama gendang. Menari hingga gua terakhir.
