Di meja panitia, Itiak-itiak tersebut diberi nama. Kadang sesuai dengan pembuluannya. Sirah, karok, itam, dan lain sebagainya. Panitia yang bertugas di sekretariat akan menuliskan nama itiak di formulir yang sudah disiapkan, sesuai dengan nomor yang tertera. Nomor pendaftaran itu akan dipasang di paruh Itiak. Jika itiak yang terdaftar sebanyak 30 ekor, maka separuhnya akan bernomor genap, separuhnya lagi tentu bernomor ganjil. Lalu, para joki akan membawa itiak ke garis start. Starter akan melepas bendera, dengan begitu cepat para joki akan berpacu melepas itiak masing-masing.
Di depan garis mati, yang merupakan batas kemenangan untuk itiak. Para juri telah menunggu dengan cermat. Mereka akan bersiap-siap menangkap itiak yang hinggap paling dekat dengan garis mati. Itiak yang melewati garis tidak akan masuk hitungan. Itiak yang telat hinggap juga tidak akan masuk hitungan. Yang menang adalah itiak yang terlebih dahulu hinggap paling dekat dengan garis mati.
Sebelum itiak-itiak yang sudah didaftarkan itu diterbangkan. Biasanya, para pecandu yang berdatangan, biasanya akan memasang nomor. Genap atau ganjil. Jika nanti yang menang itiak dengan nomor paruh ganjil, maka pecandu yang memasang nomor ganjil akan mendapat kemenangan. Jika sebaliknya, itiak yang menang bernomor paruh genap, maka tentu pecandu yang yang memasang nomor genap akan menang. Begitu seterusnya, race demi race berlangsung.
Jika salah satu itiak menang, maka akan terdengar sorak sorai dari pemilik maupun joki. Di sudut lain, jika itiak yang menang itu sesuai dengan nomor pemasangan, maka terdengar pula sorak yang lebih girang. Begitulah keriuhan di gelanggang hingga sore menjelang.
Selepas asyar, itiak jalan panjang atau terbang istimewa 1600 meter yang ditunggu-tunggu akan segera dilepas. Para joki sudah bersiap di garis start. Tampak dari awah bawah seseorang petugas lapangan, mengibarkan bendera. Awalnya merah, pertanda jalan belum aman. Di pengeras suara, janang tak berhenti berteriak. Lalu bendera putih tampak sudah dikibas-kibaskan. Tentu dengan sigap para joki telah melepas itiaknya. itiak sudah terbang, semua mata memandang jauh ke arah hilir. Mereka mengerinyitkan mata. Dari kejauahan tampak 20an ekor itiak boko melaju di udara. Begitu cepat, 60 – 70 kilometer perjam. Tak butuh waktu lama, hitungan menit itiak-itiak sudahsampai di ujung jalan. Seketika itu, orang-orang bersorak kegirangan. Sebagiannya lagi, tampak tertunduk lesu tiada bersemangat.
Secara simultan, disamping atraksi Tobang Itiak, di gedung pertemuan nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang juga dilangsungkan lokakarya. Dengan mengundang 4 orang pemantik. Dua orang diantaranya pelaku sejarah. Mereka membentangkan sesuai dengan waris yang mereka jawab dari orang-orang terdahulu tentang bagaimana asal muasal Tobang Itiak dilaksanakan. Satu orang lagi, dari organisasi Tobang Itiak luak Lima Puluh Kota. Yaitu organisis yang menanungi para pecandu Tobang Itiak di kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh. Beliau membentangkan bagaimana manajerial dari atraksi budaya Tobang Itiak ini. Mulai dari pra, pelaksanaan, hingga pasca pelaksanaan. Seterusnya satu orang lagi, adalah joki Tobang Itiak. Beliau memberikan satu pengetahuan bagaimana merawat itiak pacu. Mulai dari proses memilih itiak, tata cara memberi makan, perawatan, serta hal-hal lainnya.
