Dalam lokakarya ini dibayangkan bagaimana pengelolaan Tobang itiak ke depannya. Terutama terkait pengembangannya, pengayaannya. Terkait pemerintahan, bagaimana kemudian organisasi Tobang itiak ini dilibatkan sedari awal terutama dalam proses atau mekanisme penganggaran kegiatan. Terutama kepada Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga. Juga yang lebih penting, bagaimana kemudian budaya Tobang Itiak ini tidak lagi milik satu dinas saja. Barangkali bisa menjadi milik lintas dinas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta mungkin juga Dinas Peternakan. Dengan begitu tentu Tobang Itiak ini bisa lebih dikembangkan pengelolaan festivalnya. Serta dikuatkan narasi-narasi serta pengetahuan yang ada di dalamnya.
Sementara itu, di gelanggang yang lain, di lokasi pertunjukan. Beberapa orang juga sedang bersiap-siap. Mereka mencek dan mentes microphone. Mengatur bloking panggung. Mereka sedang mempersiapkan pertunjukan malam hari nanti. Sebelum magrib tentu sudah harus selesai. Biar sebelum isya operator sound system tinggal merapikan letak microphone. Kru panggung mulai pula membentangkan terpal sebagai tempat duduk penontong. Satu demi satu penonton berdatangan. Dalam hitungan menit telah penuh. Ada yang tidak kebagian tempat duduk. Terpaksa berdiri di pinggir-pinggir dan juga di belakang operator. Keitdaksabaran mulai terdengar dari arah penonton. Ada yang memanggil-manggil panitia. “o panitia!! mulai lah le, lah jam bora ko,” (hai panitia!! mulai lah lagi, sudah jam berapa ini). Di sudut yang lain, sekelompok penonton pun mengiyakan. “iyo, mulai lah le” (iya, mulail lah lagi).
Sabai Nan Aluih dari jorong Tanjung Haro Utara membuka pertunjukan. Sebuah karya Sitapa dalam gua talempong dimainkan. Karya dua bagian itu cukup menyita perhatian penonton. Dalam liriknya terdengar disebut-sebut soal adat dan juga syarak. Jelas sekali mereka sedang berpesan. Bahwa dalam ketentraman dan kenyamanan kehidupan banagari adat dan syarak adalah dua garis yang harus ditarik sekaligus. Tidak bisa kemudian adat (sosial) saja yang menjadi rujukan. Tetapi syarak (agama) juga harus disandingkan sekaligus. Biar kemudian seimbang antara dunia dan akhirat. Pesan-pesan itu kemudian diperkuat oleh ritma-ritma atau gua talempong.

