Dua minggu belakang, agaknya masyarakat jorong Padang Panjang, nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang lebih sibuk dari biasanya. Pasalnya, pada minggu pertama Agustus, tepatnya 6 Agustus nanti mereka akan menyambut ribuan Jemaah wirid sialturahmi se-Sumatera Barat. Bambu mulai ditebang, dibelah menjadi bilah-bilah. Mereka akan mengkavling beberapa tempat. Mulai dari tempat berwuduk, wc, hingga lokasi parkir. Sementara itu, para ibu-ibu juga tak kalah sibuk membelah dan mengiris-ngiris bawang. Sebelum matahari tepat di kepala tentu juadah sudah harus siap untuk bapak-bapak yang bergotong royong.
Melihat aktivitas ini, tampaknya, kelompok Yasin Al Jadid Mesjid Mujahidin jorong Padang Panjang, beserta masyarakat jorong Padang Panjang umumnya, telah siap untuk menyiapkan hospitaliti terbaik untuk menyukseskan Wirid Silaturahmi se-Sumatera Barat kali ini.
Tidak hanya masyarakat, agaknya pemerintahan nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang juga tidak absen untuk turut hadir dalam menyukseskan kegiatan penting ini. Pemerintah nagari telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk kenyamanan kegiatan penting ini. Mulai dari keamanan lalu lintas Jemaah nantinya, lalu lintas kendaraan yang hilir mudik, hingga keamanan dan ketertiban di lokasi nantinya.
“Kegiatan ini tentu penting sekali buat kita. Sesuai bak nama, kegiatan ini dimaksudkan untuk bersilaturahmi antar umat islam di Sumatera Barat. Disamping itu, kita juga hendak membangkitkan kembali gairah beragama kita dikalangan umat Islam yang basisnya ada di nagari-nagari di Suamatera Barat,” dengan berkaca-kaca Buya Zulkifli Latif selaku ketua panitia mengungkapkan optimistisnya.

Ibu-ibu sedang menyiapkan kudapan. Foto diambil dari grup WA forum Jorong Padang Panjang
Buya menambahkan, bahwa nanti akan ada ribuan Jemaah yang akan hadir. Mereka berasal dari kelompok-kelompok Yasin yang ada di nagari-nagari di Sumatera Barat. Kemudian, kelompok-kelompok yang berbasis di nagari-nagari Sumatera barat ini membuat perkumpulan bersama. Semacam berjulo-julo, perkumpulan ini kemudian mengadakan pengajian rutin yang bergantian. Sekali sebulan mereka akan saling mengunjungi satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu Jemaah ke tempat Jemaah lainnya. Tepat kali ini, Jemaah Yasin Al Jadid masjid Mujahidin jorong Padang Panjang, Nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang mendapat giliran untuk menjadi tuan rumah.
Menariknya lagi, nanti para Jemaah ini akan saling beriyuran untuk menutup uang operasional dari kegiatan. Mulai dari penyewaan sound system, panggung, hingga tenda-tenda untuk berlindung para Jemaah. Sedangkan, untuk konsumsi,akan disiapkan oleh panitia lokal. Setiap KK yang ada di jorong Padang Panjang nantinya akan kebagian untuk menyumbangkan 3 bungkus nasi untuk semua Jemaah laki-laki. Karena menurut Buya, Jemaah perempuan akan membawa sendiri makan dan kudapan mereka.
Nanti, kata Buya lagi, akan ada pembacaan Yasin secara bersama-sama. Ribuan orang akan melantunkan surat Yasin secara bersama-sama. Setelahnya, juga akan ada penampilan-penampilan seni Islam. Tahfiz-tahfiz juga akan menunjukkan kebolehannya pada momentum ini. Setelahnya baru diakhiri dengan ceramah, sholat berjamaah, serta makan siang bersama.
Sayangnya, sebagai panitia lokal,Buya tidak persis tahu siapa peceramah yang akan di datangkan oleh pengurus perkumpulan pusat. Namun begitu, sebagai penggerak kelompok Yasin di masjid Mujahidin jorong Padang Panjang, agaknya Buya Zulkifli Latif merasa bersyukur benar atas kesempatan wirid silaturahmi kali ini. Mengingat ini pada kesempatan ini bertepatan dengan bulan Muharram.

Grup Rebana jorong Padang Panjang. Foto diambil dari grup WA forum Jorong Padang Panjang
Sebagaimana kita ketahui, Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah, yang kemudian menyimpan cerita panjang dalam sejarah Islam. Berbagai peristiwa penting mewarnai bulan Muharram ini di masa lalu.
Salah satunya, momentum hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Momen itu kemudian dianggap sebagai tonggak penting dalam sejarah Islam. Karena itulah, penanggalan komariah yang digunakan umat Islam dijuluki kalender hijriah. Disebut demikian karena penanggalan itu berpatokan pada tahun pertama hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Sebetulnya, kata Muharram sendiri berarti diharamkan. Maksudnya, pada waktu ini, aktivitas tertentu menjadi terlarang untuk dilakukan. Pada zaman dahulu, persengketaan-persengketaan, peperangan haram dilakukan pada bulan ini. Sebaliknya, tentu pada bulan ini dianjurkan melakukan hal-hal baik, terutama ibadah-ibadah kepada Allah SWT.
“Maka dari itu, momentum ini patut kita syukuri. Dengan caranya sendiri, dengan beragam sumbangsihnya, masyarakat kita melalui silaturahmi dengan sesama bisa menambah ibadahnya kepada Allah SWT,” lanjut Buya.
Buya agaknya tengah membayangkan, semangat wirid silaturahmi kali ini ini bisa kemudian dimaknai dengan begitu rekatnya jalinan silaturahmi antara orang-orang Mekah dan Medinah pada saat hijrahnya nabi dahulu.
