Jika bulan puasa tiba, dan Anda mendengar suara motor dua tak dan bel kekok sepeda saling bersahutan panggil memanggil. Ditambah lagi cuaca sedang terik-teriknya, dan angin sedikit berhembus. Maka sudah dapat dipastikan siang itu Anda akan mendapatkan godaan terbesar dalam hidup Anda.
Kenapa tidak, itu pertanda “petaka” di siang Ramadhan telah datang. Itu adalah suara penjaja takjil khas nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang. Ia bersama motornya, dengan dua buah tong besar di belakang. Di dalamnya telah dikemas berkantong-kantong plastik-plastik Es Tebak. Campuran sempurna dari kolangkaling, cincau, tape singkong, roti tawar, cendol pandan. Kesemua itu diaduk dengan sahdu dengan susu kental manis, dan santan. Kemudian dilengkapi dengan pewarna merah saga. Namun menjadi begitu lembut setelah bercampur dengan dinginnya parutan es batu. Dengan melihatnya saja bisa bisa puasa Anda akan batal. Jika iman Anda tidak tebal-tebal benar seperti saya, mungkin Anda akan lekas-lekas menutup gorden rumah untuk mencicipnya.
Itu adalah Es Tebak Tek Eli, yang bermarkas di jorong Sikabu-Kabu, nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Yang sudah menemani Ramadhan kita dari awal-awal tahun 1990an. Sudah cukup lama sekali, lebih kurang sudah 33 tahun. Selama itu lah Es Tebak Tek Eli telah “menggoda” puasa Ramadhan kita.
Namun kini, sejak sepuluh tahun lalu, Es Tebak Tek Eli tidak lagi “menggoda” kita di bulan puasa saja. “Godaan” haus dahaga itu bisa sudah bisa kita rasakan setiap hari. Terkecuali hari jumat. Es tebak, cindua ompiang, aia aka, bubua putiah pandan, sudah bisa langsung dinikmati. Ia kini sudah mempunyai gerai sendiri, di rumahnya di jorong Sikabu-kabu.
“Sebtulnya dulu kami belum punya niat membuka gerai untuk memproduksinya setiap hari,” kata uni Fitri Yohanis, anak tertua dari Tek Eli. “Dulu, almarhun Zulfajri lah yang tak henti-hentinya meminta untuk dibuatkan setiap hari. Agar ia bisa menjajakan tebak setiap hari,” sambungnya. Sejak saat itu, Uni Fitri dan Tek Eli sepakat untuk memproduksi setiap hari, hingga sekarang.
Rupanya, almarhum Zulfajri tidak sia-sia. Kini, sudah 8 orang anak galeh nya. Kiranya, produksi kecil-kecilannya itu mampu berdampak besar bagi orang lain. Dan itu tidak hanya orang jorong Sikabu-kabu. Juga ada dari jorong lain.
Berkat anak galeh ini, Es Tebak Tek Eli kemudian mampu memperluas daya sebarnya. Beberapa wilayah kota Payakumbuh dan Lima Puluh Kota telah ditempuhnya. Seputaran nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, selingkar Situjuh Limo Nagari, hingga Piladang. Dari Pasar Payakumbuh, Koto nan Empat, Air Tabit, Sungai Kamuyang, hingga ke Gadut dan sekitarnya, pun telah “digoda” pula oleh nya.
Kenapa tidak, baru saja matahari naik agak sepenggalah, para anak galeh ini telah mulai bersiap-siap. Jika sebelum sore sudah habis, ada kalanya anak galeh menambah lagi tong-tong mereka.

Jika ada anak nagari yang ingin menjadi anak galeh nya, Tek Eli sangat senang sekali. Baginya tidak perlua ada persyaratan khusus. Yang terpenting jujur, dan cekatan, bisa berkomunikasi dengan baik dengan pelanggan, dan yang lebih penting tidak gengsi-gengsian. “Kita terbantu dan orang tertolong,” katanya.
Kini, Tek Eli sedang merencakan untuk pengembangan usaha keluarga ini. Barangkali sudah saatnya untuk bersaing dengan pasar yang lebih besar dengan jangkauan yang lebih luas. Dan bagaimana pula usaha ini bisa menjadi “pakaian” pula bagi anak-anak muda. Jadi, tidak hanya kedai kopi saja yang digilai anak-anak muda. Bagaimana kemudian “manisnya” tebak bisa dibagi-bagi pula kepada generasi milenial. Dengan begitu, tentu Tek Eli bisa mengakali keseimbangan dari kenaikan harga bahan pokok yang selalu tidak menentu. Sementara harga di lapangan tidak mungkin untuk dinaikan.
