Pada awal November lalu, bertempat di bengkel Pratama Steel jorong Bukik Kanduang, tampak puluhan anak muda begitu asyik dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang begitu fokus mengukur-ngukur besi, sebagiannya lagi memotong-motong besi, dan ada pula yang menyambung besi dengan mesin las. Lantas, proyek apa rupanya yang sedang mereka kerjakan? “Kami sedang mengerjakan proyek membuat mesin pencacah,” ujar Reda selaku ketua pelaksana kegiatan tersebut. Reda juga yang dipercaya nagari sebagai pengurus Posyantek. Tentu perlu kita ketahui, posyantek adalah lembaga nagari yang berurusan dengan teknologi. Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna begitu kepanjangannya.
Posisi Posyantek ini cukup penting. Secara regulasi, Posyantek ini diatur dalam Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 23 Tahun 2017 tentang Pengembangan dan Penerapan Teknologi Tepat Guna Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Desa dimaksudkan sebagai upaya optimalisasi sumber daya alam desa, memajukan ekonomi desa, penguatan kapabilitas masyarakat, dan peningkatan partisipasi masyarakat dengan mendorong pembentukan, pengembangan dan penguatan posyantek. Inilah yang menjadi dasar pengurus Posyantek untuk menjalankan proyek pertamanya.

“Kurang lebih 6 bulan sudah kami melakukan pemetaan. Hal menarik yang kami temukan adalah begitu banyak ternayata wilayah kita yang sudah berganti tanaman. Tanaman ubi begitu sangat mendominasi. Disamping peternakan juga masih menjadi primadona masyarakat,” ujar Reda lagi.
Dari temuan itu, Reda dan rekan-rekannya di Posyantek menemukan satu persoalan yang sebetulnya bisa dijadikan satu potensi besar. Apa itu? Adalah sampah pertanian ubi itu sendiri. Biasanya, para petani menumpuk saja batang ubinya yang telah dipanen. Setelah batangnya agak kering barulah dibakar. Setelah dibakar, batang ubi tersebut ternyata tidak habis begitu saja. Masih menyisakan tunggul-tunggul yang menghitam. Dan terkadang, dalam onggokan besar itu, justru menjadi tempat yang nyaman bagi hama tikus.
“Batang ubi itu yang baru saja selesai dipanen itu mestinya bisa kita manfaatkan,” papar Ichsan “ucok” Siregar yang juga salah satu pengurus Posyantek.
Menurut Ucok, batang ubi tersebut bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Dan yang lebih penting lagi, ketika para petani mengeluhkan ketersediaan pupuk dan juga harganya yang selangit, kenapa tidak mencari alternatif dengan membuat pupuk secara organik.

Berdasarkan itulah kemudian, Reda, Ucok dan rekan-rekannya di Posyantek merasa perlu untuk menginisiasi pembuatan TTG mesin pencacah ini. Pembuatan mesin inilah yang kemudian ditawarkan kepada pemerintah nagari sebagai sebuah inovasi.
Setelah berdiskusi panjang dengan Pendamping Desa, juga dengan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Nagari langsung menyambut baik tawaran pengurus Posyantek tersebut. Tak tanggung-tanggung, dengan anggaran yang lumayan besar, Pemerintah Nagari mendukung penuh kegiatan tersebut.
“Ini baru merupakan satu inovasi. Ini tidak hanya soal hasil, tapi di sisi lain adalah soal proses. Saya kira nagari lain juga melakukan inovasi, tetapi mereka lebih kepada membeli peralatan. Lalu mengklaim telah membuat. Namun, di Sitapa ini mereka langsung membuat dan merakit sendiri,” kata ibu Ayu.
“Diantara banyak pengurus Posyantek yang saya dampingi di kabupaten Lima Puluh Kota, saya kira baru di Sitapa ini saya menemukan satu kreativitas,” sambung pemilik nama lengkap Atyu Maini selaku Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat.
Dalam pengerjaan proyek besar itu, Posyantek Sitapa menggandeng para pelaku dan pekerja teknik di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu padang Panjang. Ada Depi Syafriadi, owner Pratama Steel jorong Bukik Kanduang yang telah lama merakit peralatan-peralatan serupa. Juga ada Windra dari jorong Padang Panjang dengan karya mesin bornya begitu banyak membantu masyarakat menggali sumurnya sendiri.
Selama kurang lebih 6 hari. Dimulai dengan pemaparan teori selama satu hari, Windra dan Depi mendampingi puluhan pemuda dalam pelahiran bentuk mesin pencacah tersebut.
“Ini belumlah selesai. Saya kira baru 90 persen. Masih perlu kita lakukan pengembangan-pengembangan,” sambut Windra di damping Depi Pratama Steel.
