Oleh : Devi Sospita
S
eorang perempuan menelentang di tengah-tengah masjid Mujahidinj jorong Padang Panjang. Tangannya dilipat di atas perut. Sementara, beberapa orang lagi tampak berbisik-bisik saling bertanya apa yang akan dilakukan selanjutnya. Di belakang sekelompok itu, tampak pula sebagian lagi sekelompok perempuan sedang memperhatikan dengan seksama, apa yang hendak dilakukan perempuan-perempuan di depan mereka.
Kelompk-kelompok perempuan itu bukan sedang berghibah. Dan yang menelentang itu juga bukan “jenazah”. Mereka sedang seru-seruan memerankan bagaimana prosesi penyelenggaraan orang yang sudah meninggal. Ya, mereka sedang mengikuti semacam pelatihan. Mereka adalah kumpulan Bundo Kanduang, anggota majlis taklim dan jamaah mesjid Mujahiddin jorong Padang Panjang. Mereka adalah peserta pelatihan atau workshop penyelenggaraan jenazah.
Kegiatan Pelatihan Penyelenggaraan Jenazah ini diselenggarakan di Mesjid Mujahiddin Jorong Padang Panjang pada hari hari Minggu lalu, 11 September 2022. Kegiatan ini diinisiasi oleh kumpulan Bundo Kanduang Jorong Padang Panjang. Keresahan akan begitu minimnya pengetahuan tentang penyelenggaraan jenazah ini di bentangkan pada saat rapat periodic Niniak Mamak Kalimo Suku Padang Panjang.

“Ya, yang menjadi dasar atau alasan diadakan kegiatan ini adalah masih banyak masyarakat kita yg belum tau sepenuhnya bagaimana menyelenggaran jenazah. Sedangkan penyelenggaraan jenazah ini hukumnya fardhu kifayah,” kata Devi Sospita yang juga ikut dalam kegiatan tersebut.
Awalnya, tampak para peserta begitu malu-malu. Namun, agaknya Ustazah Yenni, S.Pd dari Syafiyyah Comunity Sumatera Barat begitu menguasai suasana. Tidak lupa dengan memberi pengetahuan terkait dalil-dalil terkait penyelenggaraan jenazah. Dengan begitu, narasumber bisa meminimalisir rasa segan dan malu dari para peserta.
Peserta tampak begitu antusias, mulai dari”membimbing” orang yang sedang “payah” atau sakratul maut. Kemudian bagaimana pula prosesi memandikan jenazah. Mancabiak kain kafan, mengafani, hingga kemudian menyolatkan.

Dengan adanya kegiatan ini, peserta lebih mendapatkan ilmu penyelenggaraan jenazah, sehingga mereka dapat mempraktekkan nanti ketika ada keluarga yg meninggal. Harapannya kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang penyelenggaraan jenazah.
