Oleh: Roni Keron
P
ria paruh baya itu bernama Rosmimi. Ia akrab dipanggil Mak Engka oleh kemenakan-kemenkannya. Entah dari mana pula datangnya panggilan keren itu. Yang jelas, tidak hanya oleh anak kemenakannya, oleh warga jorong Padang Panjang, nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, agaknya juga dipanggil demikian.
Ia tidak hanya humoris, tetapi juga selalu memberikan semangat optimistis pada siapa saja ditemuinya. Ciri khasnya yang begitu lekat dengannya adalah, sambil membenarkan letak sarung di lehernya ia akan berceramah tentang apa saja yang diketahuinya, bahkan juga hal-hal yang tidak diketahuinya. Setelah itu pasti selalu diakhiri dengan tawa berderai. Karena rasa bersahabat itu pula kiranya pada masa jayanya, kedai kopinya yang terletak di jorong Padang Panjang tidak pernah sepi oleh pengunjung.
Bagi sebagian orang, ia juga dikenal sebagai “pendekar”, apakah itu pendekar sebenarnya, atau hanya pendekar kata. Tetapi, agaknya tak sedikit pula dari anak kemenakannya yang datang berguru. Meskipun sebenarnya hanya untuk mendengar joke-joke lucunya. Kini, ia tak lagi sesumringah dulu. Biasanya, bibirnya begitu lepas untuk tersenyum. Kini, ia lebih banyak mengerinyit menahan sakit, dan jika datang sakitnya ia tampak begitu kepayahan menahan erangannya. Agaknya dalam kesakitan itu ia masih ingin memperlihatkan ketegarannya.

Ia tidak lagi berdaya melawan penyakitnya. Mak Engka, pada April lalu didiagnosa mengidap Tumor Intra Abdomen oleh dokter. Penyakit yang asing terdengar di telinganya. Ia menerima saja apapun itu penjelasan tentang penyakit yang dideritanya. Bahwa, tumor intra abdomen adalah pertumbuhan sel yang tidak normal pada organ dalam perut. Tumor ini dapat timbul pada keempat bagian atau kuadran perut, yaitu kuadran kanan atas, kiri atas, kanan bawah, dan kiri bawah.
Akibat tumor ini, ia mengalami pembengkakan pada bagian perut sebelah kirinya. Bengkaknya makin hari makin membesar. Jangankan untuk berjalan, untuk duduk dan berdiripun begitu payah. Sehingga tentu jalan satu-satunya harus diangkat melalui operasi. Setelah berbulan-bulan menunggu jadwal operasi, akhirnya pada akhir Juli lalu pihak rumah sakit Achmad Muchtar Bukittinggi telah melakukan tindakan operasi. Sudah hampir setengah bulan Mak Engka di operasi. Kondisinya masih belum kuat. Tampak tubuhnya begitu lunglai di ranjang rumah sakit.
Anak laki-laki satu-satunya juga membutuhkan perhatian khusus
Bagi Rosmiati (istri Mak Engka) tentu pernah ia merasakan haru yang begitu dalam seperti yang dialaminya sekarang ini. Suaminya terbaring lemah di rumah sakit. Sementara, anak laki-laki satu-satunya juga sedang lunglai di rumah. Eki (Kiram, 34) mengalami kelainan pada syaraf-syaraf di tubuhnya. Eki sebetulnya juga membutuhkan perhatian dan perlakuan khusus untuk tubuhnya.
Kita tahu, pada orang normal biasanya saraf motorik melanjutkan sinyal yang dikirim dari otak ke seluruh saraf-saraf pada otot. Sinyal yang dikirim itu tentu berfungsi untuk mengatur gerakan otot, mulai dari berjalan, berbicara, menggenggam, menelan hingga bernapas. Jika fungsi saraf ini terganggu, tentu penderita akan kesulitan dalam melakukan aktivitas-aktivitas. Inilah yang diidap Eki sejak lebih kurang 4 tahun lalu. Eki sangat sulit untuk berjalan, berbicara, dan aktivitas-aktivitas lainnya.

Di samping beban materil, tentu Rosmiati juga menahan beban moril. Tak dapat dibayangkan apa yang ditanggungnya, oleh jiwa dan juga raganya. Hari ini ia hanya bisa bertahan dengan BPJS. Tentu BPJS hanya bisa menanggung pengobatan suaminya. Bagaimana dengan sakit anaknya. Bagaimana pula dengan biaya sehari-hari ia di rumah sakit. Bagaimana pula dengan biaya sehari-hari anaknya di rumah. Itu benar yang kini sedang menjadi beban berat yang berhimpitan di kepalanya.
