Sebelum Isya, saya sampai di nagari Lubuak Batingkok, di lapau kopi kampung seorang kawan, Fitri Noveri. Saya datang memang untuk memenuhi undangan beliau melihat proses latihan sandiwara yang sedang digarapnya. Lapau itu sekaligus rumahnya. Biasanya saya datang ke rumah beliau selalu di pagi hari menjelang siang. Itupun kadang secara tiba-tiba. Rumah Feri ini selalu menjadi rute menarik bagi saya ketika hendak bersepeda ke ibukota kabupaten, Sarilamak. Maka rumah Feri ini menjadi titik pemberhentian pertama saya.
Sambil beristirahat, saya biasanya langsung mematut-matut etalase lapau nya. Tanpa basa basi saya menyendok aneka macam sarapan ke piring. Dengan senang hati saya bisa memilih sarapan apa yang saya mau di lapau itu. Memang, kala pagi menjelang siang, kawan saya ini sehari-hari berjualan sarapan pagi. Tetapi kalau siang hingga sore biasanya memandikan Ayam, kalau tidak ada mengikuti kegiatan kebudayaan maka ia menyambi menggosok-gosok batu akik.
Dengan aktivitas berjualan sarapan pagi, tentu sedari subuh atau mungkin juga dini hari, Feri telah bersiap-siap. Saya membayangkan Feri tergopoh-gopoh ketika di sahut oleh istrinya untuk merebus air, mencuci piring, memanaskan gulai, dan lain sebagainya. Sebagaimana saya tahu kalau sepasang suami istri ini adalah seorang aktor sandiwara dan juga sutradara, jadi saya kerap membayangkan kesibukan kehidupan mereka di kala pagi itu. Bagi saya kegrocohana Feri sepagi itu sesuatu yang begitu dramatik. Yang tentunya cukup menarik untuk divisualkan melalui sandiwara. Namun kiranya pada malam saya datang itu, saya menemui situasi dramatik yang lebih menarik lagi.
**
“Iko katan kau ndak bakarambia baa pulo ko, amba lah nyo”, Feri berkata.
“Rameh lah jaga tu dulu wan, iyo ndak bakarambia? Ko alun jadi wan kaca jaga urang alah mancimeeh, pandai pulo mangecek amba”, seseorang perempuan menjawab
“Den kaca jaga kau dilantuang den dek si Nasar laki kau beko”, kata Feri lagi
“Katan tu sajo wan kaca, kok jaga den nyak wan kaca, Aden nan ka malantuang Uwan dulu mah”, perempuan tadi menjawab lagi dengan ekspresi sedikit muak
Rupanya Lapau yang “dramatik” itu benar-benar telah menjelma ruang yang penuh drama. Feri, Nanik, dan beberapa orang lagi tengah serius berlatih sandiwara. Konon, sandiwara dulu pernah jaya di utara Lima Puluh Kota ini.
**
Ya, benar saja, sandiwara sesungguhnya bukanlah sesuatu yang asing di Lubuak Batingkok. Merujuk Dede Pramayoza dalam bukunya Dramaturgi Sandiwara: Potret Teater Populer Dalam Masyarakat Poskolonial, bahwa di nagari yang tersuruk ini sandiwara telah dikenal sejak tahun 50an, atau bahkan mungkin juga jauh sebelum itu. Dari penelusuran Dede, setidaknya pada dekade 50an hingga 80an proses kreatif sandiwara telah berlangsung di Lubuak Batingkok. Sejauh yang didapatkannya, pada dekade 80an, setidaknya ada beberapa lakon yang telah diproduksi. Antara lain, lakon Titian Kehidupan (1981) yang ditulis oleh Yusfia Helmi, dan lakon Siti Baheram (1985) yang juga ditulis oleh Yusfia Helmi.
Dede mensinyalir, kedatangan sandiwara di Lubuak Batingkok, terhubung erat dengan kedatangan Tonil dan Opera Melayu dari Riau. Perkambangan seni peran ini juga terekam dalam catatan Van Kerckoff yang ditulis di Payakumbuh, tahun 1888. Bahwa, masyarakat Minangkabau terutama yang tinggal di daerah pesisir yaitu Padang mulai berkenalan dan begitu menggemari pementasan dari rombongan tersebut. Mereka menggemari karena cerita-cerita yang dibawakan mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, yang begitu dekat dengan bahasa lokal. Dari Padang ini kemudian, Tonil ini diperkirakan menyebar ke kota-kota di Sumatera Barat. Seperti, Pariaman, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh.

Kiranya sungguh menarik temuan Dede ini. Dengan begitu dapat dibayangkan bagaimana berkembangnya sandiwara—sebuah kesenian dramatik popular (terlepas dari tradisi) di Sumatera Barat ketika itu. Bahkan, pada momen tertentu sandiwara menjadi tontonan wajib masyarakat di nagari-nagari. Misalnya pada perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, hari kemerdekaan, serta hari-hari besar nasional lainnya. Menariknya lagi, tentu sandiwara ketika itu berhadapan langsung dengan randai. Yang kita tahu bahwa randai adalah juga sebuah kesenian dramatik (tradisional) Minangkabau.
**
“Apo mukasuik kau ko? Agak padiah puncak bisua den mandanga kecek kau mah”, kata seseoran laki-laki.
“Uda lai puncak bisua uda yang padiah nyo. Aden kapalo ko yang raso kapacah ha, yo bana ndak taputa dek pangana Den lai, baa caro iduik ko lai ko”, balas seorang Perempuan yang diduga istri laki-laki tersebut.
“Apo yang kau pikiakan?”, balas laki-laki tersebut.
“apo yang kau pikiakan? Berarti kan yo ndak takana bana dek uda kalau wak hiduik barutang. Kini lah tanggal bara dek uda ko”, balas istrinya lagi.
Saya kembali mulai menikmati latihan Feri, Nanik dan kawan-kawannya. Sambil manggut-manggut, saya menyaksikan para pemeran sedikit terbata-bata, bahkan sangat tidak leluasa membaca naskah sambil berdialog dengan lawan main mereka. Meskipun sebenarnya, dialog-dialog itu secara diksinya begitu dekat sekali dengan mereka. Serta situasi dan kondisi yang saya tangkap dari naskah tersebut juga bercerita tentang keseharian mereka.
Dari tangan salah satu pemeran, saya melihat naskah itu berjudul, MEKAR. Dari tuturan Feri, naskah MEKAR ini merupakan garapan ketiga setelah Cadiak Patah, dan juga Bayang Kaki Limo.
Garapan pertama, Cadiak Patah menyoroti bagaimana pandangan mertua pada perbedaan status sosial para menantunya. Feri mencermati bagaimana seorang menantu yang secara sosial lebih terhormat, maka mertua akan menunjukkan rasa hormat yang lebih besar pula, bahkan mungkin perhatian khusus, dan cendrung menghindari kritik terbuka terhadap menantunya. Sebaliknya, jika menantu berasal dari keluarga dengan status sosial yang lebih rendah maka bersiaplah menghadapi situasi yang rumit.
Dapat dilihat bagaimana cara mertua lebih sering mengkritik, mencemooh, dengan cara-cara tertentu. Bahkan juga ada yang memberikan tugas rumah tangga yang lebih berat. Bahkan, membatasi pengambilan keputusan-keputusan penting yang menyangkut kehidupan keluarga baru tersebut. Saya ingat betul, alih-alih dipentaskan di panggung menggunakan set dan properti rumah, garapan ini digelar memang di dalam rumah salah satu warga, di Lubuak Batingkok tahun 2015 silam. Setelah pementasan, kawan-kawan pemerhati teater berseloroh, menyebut sandiwara Feri ini dengan sandiwara di dalam rumah.
Garapan kedua berjudul Bayang Kaki Limo. Sandiwara ini menyoroti tentang bagaimana ragam corak pandangan orang-orang di pasar terhadap politik, pendidikan, serta realitas-realitas lainnya dalam kehidupan sehari. Lalu, garapan ketiga ini menyoroti bagaimana fenomena baru di masyarakat, yaitu hutang piutang gali dan tutup lobang yang disebabkan oleh pinjam meminjam. Fenomena ini kemudian menimbulkan masalah sosial yang cukup serius di tengah-tengah masyarakat. Garapan ini dipentaskan dalam rangkaian kegiatan Pekan Budaya Sumatera Barat di Padang tahun 2023 lalu.

Menarik, tiga naskah tersebut ditulis dalam Bahasa Minang. Feri dengan sandiwaranya ini memang hendak mengkampanyekan satu bentuk pertunjukan yang sedekat mungkin dengan penonton, baik itu secara tema mau pun dalam bentuk garapannya. Garapan yang dimaksud Feri adalah menyoal dramaturginya. Mulai dari bagaimana terlebih dahulu lakon ini dikhayalkan, kemudian dituliskan, lalu dipentaskan, hingga kemudian ditonton. Atau bagaimana lakon diciptakan, kemudian mengolahnya menjadi pementasan, lalu bagaimana proses pementasannya, serta bagaimana pementasan itu kemudian diresepsi oleh penonton.
Salah satunya adalah bagaimana menggunakan bahasa keseharian para aktor. Baik itu diksi maupun ucapan dialeknya. Karena itu, Feri tidak lagi mempersoalkan siapa aktornya, apakah mendapatkan didikan teater secara akademis, otodidak, atau pun tidak dua-duanya.
Meskipun masih terbata-bata, saya melihat para pemeran atau pemainnya dengan senang hati mendapat satu ruang untuk menertawakan realita. Seolah ruang dramatik ini menjadi satu ruang bersama untuk melepaskan yang selama ini tidak tuntas di dalam diri mereka. Baik itu bagi Nanik, seorang ibu rumah tangga sekaligus pengusaha sarapan pagi. Begitu juga bagi Nusyirwan, seorang pegawai negeri sipil di UIN Bukittinggi yang harus mengambil absen ketika datang dan keluar kampus. Atau Yasman, seorang seniman taman dan tukang bangunan yang tak pernah diam itu. Atau juga, Tia seorang tenaga pengajar di salah satu instansi pendidikan non formal yang juga menyambi guru Taekwondo di Lima Puluh Kota. Atau juga bagi Palito seorang pelajar kelas 4 SD. Juga bagi Roma, seorang ibu rumah tangga yang disibukkan dengan usaha warung setiap hari. Dan Fauza Fitra Hadi, wiraswasta, dengan kesibukan berdagang jajanan anak-anak. Serta Rahmad Hidayat yang keseharinnya sebagai petani dan pemain musik tradisi.
Bersama para pemeran ini, sandiwaranya hendak dijadikan Feri sebagai cermin untuk mencermati kesegehan. Mematut ketampanan sekaligus keburukan. Mencabut bulu-bulu kesombongan yang tumbuh di bawah hidung, di dagu, atau di ketiak. Menyemprot segala yang busuk dengan parfum dan juga deodoran. Setelah sandiwara selesai, maka tertawalah hingga air mata terurai.
