“Pada akhir November ini, anak-anak nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, atau yang biasa disebut dengan nagari Sitapa, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, kembali akan menggelar perayaan aktivitas seni kebanggan mereka, Legusa Festival. Kegiatan ini akan dilangsungkan pada tanggal 23 hingga 26 November tahun ini.
Legusa Festival sebetulnya sudah diproduksi oleh anak-anak Sitapa sejak 2018 lalu. Perayaan tahun ini, merupakan pelaksanaan tahun ke 6, meskipun sempat terhenti ketika Pandemi Covid-19 mewabah.
Dari tahun ke tahun, yang selalu dipertahankan dari festival ini adalah soal keterlibatan warga dalam penyelenggaraannya. Selain sebagai inisiator awal, penggerak festival, pengisi acara, serta yang menghidupi festival ini adalah sumbangsih dari segenap masyarakat. Demi melihat anak-anaknya tampil sebagai pengisi acara, para ibu akan dengan senang hati memberikan apa yang mungkin bisa mereka sumbangkan. Pisang sesikat, kerupuk untuk dikudap-kudap, hingga berbungkus-bungkus nasi untuk makan panitia. Seolah tak mau kalah, para ayah juga akan berbagi tenaga dan pikiran mereka untuk ikut menyumbangkan kreativitas dalam mendekorasi lokasi kegiatan yang digunakan untuk berfestival.
Karena digerakan oleh segenap warga, tidak salah pula kiranya festival ini kemudian diistilahkan dengan festival warga. Salah satu jenis dan bentuk festival yang secara penyelenggaraan dan semangat yang dibawa begitu berbeda dengan festival-festival kebanyakan.
Festival ternyata bisa menggerakan warga masyarakat untuk memberi peran dalam hal kehidupan bersama. Di setiap jorong sudah ada satu kelompok yang mengemari kesenian. Karena festival nagari Sitapa menjelma nagari pertunjukan. Dengan pengelaman membuat festival, beberapa orang anak nagari Sitapa kerap diminta menjadi fasilitator pemberdayaan masyarakat dengan jalan kebudayaan. Serta berkat festival, di nagari Sitapa lahir tokoh-tokoh muda yang bisa diandalkan. Agaknya, selain untuk berhura-hura, ternyata festival juga punya kekuatan yang lain.
Melihat peluang itu, serta merasakan daya gerak dari festival ini, anak nagari Sitapa semakin optimis untuk mengembangkan gerakan kebudayaan ini. Bagaimana kemudian bisa dijadikan sebagai sebuah tools, untuk maju bersama, ruang belajar bersama, serta alat bersama untuk meningkatkan kapasitas manusianya. Dengan begitu, tentu kapasitas nagari dengan sendirinya ikut terangkat. Inilah barangkali yang dimaknai sebagai satu kemajuan dalam berkebudayaan. Dengan kebudayaan, nagari Sitapa ikut melaju semakin di depan.
Melihat gerakan kebudayaan ini pula Pemerintah Nagari seolah mendapat satu kesempatan yang lain. Dan mungkin juga yang ditunggu-tunggu selama ini. Gerakan kebudayaan rupanya bisa menjadi ruang untuk mengumpulkan masyarakat dengan mudahnya. Maka, Pemerintah Nagari langsung merespon dengan cepat.

Topik kebudayaan kiranya perlu untuk dituangkan ke dalam ranah kebijakan. Untu itu, tentu perlu satu kekuatan hukum. Kebudayaan harus diakomodir dalam Rencana kerja Pemerintah Nagari. Sebelum itu tentu perlu masuk dulu ke dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah (RPJM) nagari. Dengan begitu, tentu nanti dengan mudah bisa diakomodir dalam Rencana kerja tahunan Pemerintah Nagari. Maka dari itu, Pemerintah Nagari punya dasar untuk memasukkan kerja kebudayaan ke dalam anggaran pendapatan belanja nagari.
“Saya kira, kebudayaan ini begitu perlu untuk ditinjau kembali. Mungkin ini yang telah kita lupakan. Jangan-jangan jalan kebudayaan ini sangat bisa untuk dijadikan dasar pembangunan di nagari. Untuk itu, kawan-kawan di Pemerintah Nagari telah mencoba membuat kebijakan terkait kebudayaan nagari,” sebut Walinagari Nofrizal.
Hal ini dibenarkan juga oleh Roni Keron selaku Daya Desa di nagari Sitapa ini. “Saya memang banyak berdiskusi dengan kawan-kawan di pemerintah nagari. Kebetulan yang ada di pemerintahan ini anak-anak muda nagari yang cukup inovatif. Jadi diskusinya enak. Saya dan kawan-kawan kerap mendorong pemerintah nagari untuk membuat kebudayaan ini menjadi vital kembali. Mungkin sudah saatnya kita menyentuhnya melalui kebijakan. Meskipun setingkat nagari atau desa. Setelah ini nanti kita bisa pula kita kejar setingkat kabupaten, terang keron dengan begitu optimis.
Ketahan Pangan untuk ketahanan budaya
Tentu, dari apa yang telah dibangun oleh anak-anak nagari Sitapa ini, Pemerintah mesti harus hadir. Dan sejak tiga tahun ini, pemerintah telah menampakkan kehadirannya untuk pengembangan kebudayaan di nagari Sitapa. Dalam hal ini, kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, melalui Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan kebudayaan, Direktorat Jendral Kebudayaan telah hadir sejak 2021 lalu. Pemerintah hadir dalam satu program unggulan mereka, yakninya program Pemajuan Kebudayaan Desa.
Selama tiga tahun pendamping budaya desa atau yang biasa disebut dengan Daya Desa telah berhasil memetakan atau menemukenali objek-objek kebudayaan di nagari Sitapa. Objek budaya yang telah mengemuka kemudian dikemas dalam satu perayaan. Inilah kemudian yang dikemas dalam aksi pemanfatan.
Sedikit berbeda dengan penyelenggaran tahun-tahun awal, seperti mandate dari direktorat jendralkebudayaan, tahun ini akan dikemas dalam kerangka ketahan pangan. Agaknya, isu ketahanan pangan menjadi satu wacana yang harus direspon dalam gelaran kebudayaan.

Kita sering mendengar, di banyak kesempatan presiden Jokowi kerap berbicara soal ancaman krisis pangan yang tengah melanda dunia. Perubahan iklim yang begitu ekstrim yang mengakibatkan banjir, badai, kekeringan, yang sudah tentu akan berpengaruh pada kualitas dan kuantitas panen.
Begitu juga bagi negara-negara yang terlanjur bergantung pada industri ekspor dan impor pangan. Konflik dan perang menjadi momok yang menakutkan. Perang yang tak berkesudahan akan menghambat distribusi pangan itu sendiri.
“Masalahnya, karena kita cenderung mengabaikan hal yang sangat krusial dalam pembicaraan soal sistem pangan, yakni kebudayaan. Dalam perjalanan panjangnya di bumi ini, manusia mengembangkan beragam cara untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Dalam ekosistem yang berbeda, manusia melahirkan kebiasaan berbeda dan tentu pola pangan yang berbeda,” tulis Hilmar Farid dikutip dari kompas, 26 November 2022.
Mengingat hal itu, maka, dalam kerangka inilah kemudian Legusa Festival tahun 2023 akan dikemas. Legusa Festival akan dijadikan sebagai ruang menggali pengetahuan-pengetahuan lokal tentang pangan. Pengatahuan yang akan disumbangkan untuk kemajuan kebudayaan. Namun, bagaimana Legusa Festival berbicara ketahanan pangan?
“Barangkali pada konteks nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, kita sudah selesai soal pangan. Dengan petuah dan pepetah alam takambang jadi guru misalnya, barangkali apapun yang tersebar di alam menjadi tak berdaya di dalam kuali dan piring,”sebut Keron.
Namun begitu, justru yang mengancam bagi Keron adalah soal air dan mungkin juga soal tanah. Tempat tumbuhnya pangan-pangan tersebut. Di banyak tempat di nagari Sitapa, sawah-sawah di lembah-lembah yang biasanya selalu basah, namun kini sistim perairannya malah tadah hujan.
Inilah kemudian yang akan dicoba dibreakdown dalam Legusa Festival tahun ini.
“Ya, kami akan mencoba membongkar pengetahuan-pengetahuan lokal terkait tata air dan tanah di nagari Sitapa. Kenapa kemudian tiba-tiba air di banyak titik di nagari Sitapa menjadi berkurang bahkan hilang. Begitu juga dengan hasil panen. Dahulu, panen 1 kali setahun bisa untuk persediaan makan beberapa keluarga. Lantas, setelah panen 3 kali setahun justru tidak mencukupi. Barangkali ada yang salah dengan sistim pengolahan tanah dan air kita,” sambung Keron.
Menurut Keron lagi, pengetahuan ini kemudian akan direspon dengan berbagai pertunjukan kesenian. Beberapa orang seniman akan diundang mengikuti lokakarya. Seniman ini akan tinggal menetap di nagari Sitapa. Pengetahuan-pengetahuan tadi, akan diturunkan ke dalam karya. Mulai dari karya seni pertunjukan berupa karya musik, tari, sandiwara. Juga ada karya seni visual berupa film. Dan tidak kalah pentingnya adalah karya memproduksi kuliener dari bahan-bahan lokal. Karya inilah kemudian yang akan dipentaskan di panggung Legusa Festival 2023.
Kontak: Roni Keron (0812-6193-8993)
Nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota.
