Di sudut dapur yang cukup sesak oleh kayu-kayu, peralatan dapur, tungku, serta jelaga-jelaga yang bergelayutan di selayan. Kesemua itu, menjadi saksi atas bunyi-bunyi tradisi yang kerap diperdengarkan oleh ibu Asria atau yang biasa dipanggil Mak Upiak, berdua dengan mak Ceni.
Dua perempuan 60 tahun lebih ini yang memang menjadi ujung tombak kelompok ansambel Talempong Pacik Pitopang Saiyo yang ada di jorong Bukik Kanduang, nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang.
Sepanjang usia mereka, sepanjang itu pula mereka bergelut dengan talempong pacik. Sejak usia sekolah dasar, sejak mula pandai membaca Al-Quran, sejak itu pulalah mereka mengenal talempong pacik. Selesai mendendangkan irama kaji di surau, setelahnya mereka akan mendendangkan pula irama talempong di rumah gurunya.
“Talempong dahulu menjadi barang yang mahal,” ingat Mak Ceni. Karena mahalnya, tentu tidak banyak orang yang punya dan memiliki alat musik yang magis itu. Mengakali keterbatasan tersebut, Mak Ceni dan Mak Upiak berlatih menggunakan stik dari bambu yang ditusukan buah pinang di ujungnya. Stik pinang itu kemudian dipukul-pukulkan sesuai irama (gua) talempong ke sasak (bilah dari bambu yang dianyam yang dijadikan dinding untuk rumah).
“Setelah pukulannya hapal betul, barulah kemudian dipindahkan ke alat musik talempong,” kenang Mak Upiak. “Bagi saya, bunyi talempong ini begitu merdu dan begitu magis. Terasa ada yang saling bertingkah dan saling berkejar-kejaran di dalam alunannya,” tambahnya.
“Ada yang menarik saya ke dalam bunyi tersebut. Lalu serasa ada yang mendorong untuk memegang stik. Di dalam hati kecil saya serasa ada suara yang memanggil, ikuti saya, sampai betul-betul kau memilikinya,” sambung Mak Ceni.

Karena itu, mereka meminta kepada orang tua untuk diantarkan berguru. Belajar main talempong. “Saya masih ingat betul, ketika pertama kali diantarkan oleh ibu saya ke Lakuak Dama. Disana ada guru yang pandai, Haji Misah. Kami membawa nasi di dalam kombuk (anyaman pandan sebagai pengganti tas). Besok paginya baru pulang ke rumah,” kenang Mak Ceni lagi.
Mereka mulai menyadari, ketika itu mereka sedang gila-gilanya dengan alat musik perunggu yang di gua bersamaan dengan tambua, giring-giring, dan oguang tersebut. Agaknya, bunyi yang saling bertingkah itu benar-benar merasuki jiwa mereka. Sejauh apapun terdengar bunyi talempong, pasti mereka akan datang, meskipun hanya sekedar melihat-lihat saja.
Sebetulnya tidak hanya oleh bunyinya, mereka juga terkesima oleh reportoar-reportoar yang dimainkan. Ada reportoar siamang tagagau, sawai kamalaman. katumbang, anak-anak, taratak, talipuak.
Konon, dahulu sekali, dalam hal apapun orang-orang hampir selalu menggua talempong. Gotong royong, mencari kayu, dan lain sebagainya. Ketika hendak mencari kayu ke dalam rimba, seekor Siamang yang sedang asyik di atas pohon seraya memakan buah simantuang. Terkejut dan terjatuh setelah rombongan orang-orang mencari kayu serta merta membunyikan talempong. Karena itu, reportoar ini diberi judul dengan Siamang tagagau.
Mak Ceni dan Mak Upiak membernarkan aktivitas-aktivitas yang selalu diiringi talempong. Ketika masih muda, mereka kerap mengiringi masyarakat bergotong royong. Mulai dari bertanam dan manyabit padi, hingga gotong royong membangun masjid. Mereka pastikan selalu diiringi dengan bebunyian talempong. Gunanya tidak lain tidak bukan adalah untuk memacu semangat kerja yang tingkah bertingkah serupa bunyi talempong yang dimainkan. Selain itu, mereka juga kerap memainkan talempong untuk arak-arakan. Mulai dari khitanan, pesta perkawinan, hingga batagak pangulu.
Kini, mereka sudah tua benar. Berharap generasi muda mau untuk tetap meneruskan bunyi yang magis ini. Tentu dengan usia yang sudah tua ini mereka tidak sanggup lagi jika masih dipanggil untuk mengiringi acara-acara tertentu. Agaknya yang bisa menghibur mereka adalah bunyi-bunyi masa lalu yang begitu abadi di dalam diri.

