Tak banyak anak-anak muda di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang yang gemar menghimpun diri dalam sebuah komunitas. Padahal, komunitas bisa dijadikan sebagai alat bersama untuk membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup. Komunitas tidak lain adalah kumpulan dari para anggotanya yang memiliki rasa saling memiliki, terikat diantara satu dan lainnya. Serta percaya bahwa kebutuhan para anggota bisa terpenuhi jika para indivudu anggotanya sanggup berkomitmen untuk terus bersama-sama.
Diantara yang tidak banyak itulah kemudian Komunitas Ladang Paloma muncul di jorong Lakuak Dama, nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang. Komunitas yang didominasi oleh anak muda ini berdiri pada Juni 2022. Mereka mempunyai komitmen mantap perihal pertanian. Karena, menurut mereka, pertanian tidak lain adalah urat nadi dari kehidupan itu sendiri. Bicara pertanian, tentu mereka tidak hanya bicara soal sawah, ladang, dan apa yang akan ditanam saja. Pertanian adalah ranah yang begitu kompleks. Sosial, ekonomi, lingkungan, budaya, dan mungkin saja pariwisata ada di dalamnya.
Sebuah kesadaran baru yang sepertinya tidak dimiliki oleh banyak anak muda lainnya. Khususnya anak muda nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Kesadaran itulah yang hari ini hendak dibagi kepada banyak anak muda lainnya oleh Eki Sepriandi, M. Ichsan Siregar, Merie Corie Nopaisa, Ilhamdi, Redha Andika Ahdi, serta Muhamad Agung Syafaned.
“Bicara dalam konteks nagari, saat ini kami ingin terus berkampanye tentang isu-isu lingkungan,” seru Redha Andika Ahdi yang bertugas untuk penyebarluasan wacana-wacana.
Kiranya tepat benar, disaat krisis sosial sekarang ini mesti ada yang berani sedikit nyinyir untuk menyuarakan apa yang menjadi denyut kehidupan di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang. Apa itu, tidak lain adalah tanah hutan dan seisinya. Kita tahu, setidaknya tahun-tahun terakhir ini, penebangan hutan pinus nagari tidak bisa dibendung. Karenanya, dalam waktu tidak genap setahun saja, bukit yang dulu begitu enak dipandang, pohon-pohonnya yang menjulang hilang dalam terang.
“Rasanya tidak ada yang berusaha untuk bersuara, agaknya inilah yang menjadi semacam tanggung jawab Ladang Paloma,” sambung Redha lagi.
Barangkali benar, mungkin ancaman bencana longsor akan menjadi hal yang klise, bahkan juga agak berlebihan jika kita bicara di tengah-tengah masyarakat. Namun, sebetulnya ada akibat lain yang mungkin tidak dapat kita kira. Kita tahu, pohon adalah tempat hinggap bagi banyak spesies burung. Jika pohon-pohon tidak ada lagi, tentu spesies burung-burung itu juga akan mencari tempat yang baru. Mungkin saja diantara banyak burung itu adalah ungags-unggas pemakan ulat. Atau mungkin saja pemakan pianggang. Sebagaimana dalam kultur pertanian kita, selain tikus, ulat, pianggang, kuyo adalah juga musuh oleh para petani. Dengan menebang pohon, tentu sama saja kita membiarkan burung-burung pergi. Artinya lagi, kita mempersilahkan pianggang, ulat-ulat, mungkin saja kuyo, atau hama lainnya menyerang tanaman masyarakat kita.

Disamping itu, selain bermain diwilayah isu sosial, Komunitas Ladang Paloma juga sedang mengembangkan pertanian terbarukan seperti hidroponik. Dengan memanfaatkan teknologi dan informasi, kami berhasil mengembangkan produk pertanian berupa melon premium, dan juga sayur mayur. Melon premium atau sayur-sayur segar yang kerap kita lihat di swalayan-swalayan, atau di supermarket-supermarket, itulah yang diproduksi oleh komunitas Ladang Paloma ini. Artinya, komunitas Ladang Paloma membayangkan satu pasar yang memang lebih menjanjikan. Pasar yang jelas dengan harga yang cukup tinggi. Dalam setahun ini, setidaknya, ada tiga atau empat titik ladang mereka yang sekarang ditanami dengan Melon premium ini dan juga sayur mayur.
“Dalam kacamata kami, pertanian di nagari kita selalu tampak apa adanya. Masyarakat kita menanam, lalu kadang tidak memikirkan bagaimana pasca tanam, atau setelah panen. Kemana pasarnya, apakah mengikuti pasar, atau menciptakan pasar sendiri?” kata Eki.
Ini pula yang menjadi pemikiran Komunitas Ladang Paloma. Kondisi pasar yang kadang tidak stabil, membuat hasil produksi pertanian kadang berharga, kadang malah menjadi sia-sia. Artinya ada yang tidak stabil pada proses itu. Untuk itulah, mereka tergerak untuk hadir. Bagaimana caranya bisa menambah nilai pada proses pertanian.
Mereka, ingin mengaplikasikan bagaimana pertanian dengancara lain. Pertanian yang mampu meningkatkan kualitas dari hasil pertanian itu sendiri. Nilai yang dimkasud tentu memberikan daya tawar sekaligus daya saing di pasaran.

Dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan media sebagaimana yang digeluti oleh kaum muda. Secara bersama-sama Komunitas Ladang Paloma ingin memberi nilai-nilai kreatif dan inovatif dalam dunia pertanian yang sedang mereka geluti. Inovasi itulah yang kemudian hendak mereka tularkan.
