Oleh : Roni Keron
J
ika tidak ada yang akan kita tanam, lalu apa pula nanti yang akan kita panen? Jika tidak ada yang kita tabur di dalam tanah, lalu apa pula yang akan kita tuai di atasnya? Barangkali begitu yang hendak disampaikan oleh anak-anak muda nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang yang tergabung dalam Komunitas Ladang Paloma.
Komunitas Ladang Paloma, adalah sebuah perkumpulan anak muda tani di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, yang mempunyai markas di kaki bukit pinus nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, tepatnya di Lokuak Puncak Lontiak, jorong Lokuak Dama. Sebagai anak muda yang gemar bertani dan juga melek teknologi, maka Komunitas Ladang Paloma membawa sistim bertani baru ke nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Salah satunya, bagaimana manajemen, membangun jaringan serta memasarkan produk pertanian mereka.
Dengan modal tersebut, bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa Indonesia, Komunitas Ladang Paloma membuat satu gerakan dalam bidang pertanian. Dengan menggandeng Gerakan Tani Muda (GEMPITA) Sumatera Barat, Komunitas Ladang Paloma ingin mengajak para pegiat pertanian untuk selalu tumbuh bersama. Dengan semangat bertumbuh yang kuat, mereka juga ingin mengajak masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang untuk “pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat”. Dengan kata lain, mereka ingin mengajak segenap masyarakat untuk berkampanye tentang pentingnya menanam, tumbuh, dan menuai.
Kampanye tersebut dimulai dengan upacara. Sebagai upaya untuk merenungi kembali arti kemerdekaan sesungguhnya. Upacara bendera diikuti oleh para pemuda dengan berbagai latar belakang berbeda-beda. Seperti penggiat kopi, penggiat pertanian modern, aktivis sosial media, hingga pemerhati lingkungan hidup. Setelah upacara, kemudian dilanjutkan dengan diskusi terkait lingkungan, serta juga penanaman kembali hutan pinus yang terlanjur gundul.

Foto : Dokumentasi Komunitas Ladang Paloma
Sebagai informasi, beberapa tahun terakhir, hutan pinus nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, dengan beragam motif, telah dibabat secara masif oleh oknum-oknum di dalam masyarakat. Setidaknya, menurut hitungan Komunitas Ladang Paloma, lebih kurang 50 hektar hutan pinus di 4 titik (jorong Bukik Kanduang, Tanjung Haro Selatan, jorong Lakuak Dama, serta beberapa bagian di jorong Sikabu-kabu, nyaris habis ditebangi.
“Kami sangat berharap masyarakat akan menyadari kembali akan pentingnya reboisasi. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan terburuk ke depannya”, kata Eki, salah satu founder Komunitas Ladang Paloma dan juga Dirut BUMNAG Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang.
Senada dengan Eki, Dendy Selmaeza yang juga salah satu inisiator Komunitas Ladang Paloma membeberkan. “Kemerdekaan yang sepenuhnya belum sampai kepada para petani dan lingkungan, kemerdekaan baru akan sampai ketika para petani sejahtera, dan lingkungan kita terbebas dari bencana yang disebabkan sekelompok oknum tidak bertanggungjawab”, kata Dendy.
Sementara itu, Nurkholis, yang tidak lain adalah Korwil GEMPITA juga menuturkan, bahwa masyarakat yang peduli harus segera bergerak untuk menyelamatkan lahan yang sudah kritis, bergeraklah meskipun dengan jumlah sedikit, lebih baik memulai dari hal kecil dari pada tidak sama sekali.
Sebagaimana yang direncanakan oleh Komunitas Ladang Paloma, kampanye ini ditutup dengan penanaman kembali pohon-pohon yang produktif. Yaitu, pokat, durian, dan berbagai tumbuhan lainnya. Sekitar 100 batang pohon berhasil ditanam pada momen hari kemerdekaan tersebut. Selanjutnya, akan diagendakan kembali penanama berikutnya. Dengan target 100 ribu tanaman. Penanaman tersebut dibayangkan sebagai pengisi lahan kritis yang beberapa waktu lalu dibabat dengan begitu masif oleh oknum masyarakat.

Foto : Dokumentasi Komunitas Ladang Paloma
Tentu sangat disayangkan sekali, setelah kayu-kayu pinus diambil, kemudian setelah habis lantas lahan-lahan yang luas itu dibiarkan begitu saja. Jika kemudian setelah sumber daya diambil dan ada upaya penanaman kembali, tentu bisa diterima sebagai bentuk tanggung jawab kepada anak cucu ke depannya.
Jika demikian, agaknya ada benarnya juga, bahwa memanen apa yang kita tanam adalah sebuah kemerdekaan, tetapi memanen tanpa menanam adalah satu bentuk penjajahan.
